Selasa, 16 September 2014

Berdamai dengan masalah



“Seorang perempuan menangis tersedu-sedu sambil mengangkat roknya berwarna biru tua. Sesekali dia melihat sesuatu di kakinya. Perempuan tersebut datang ke UKS sambil terus menangis minta diobati. Petugas UKS segera mungkin memberikan pertolongan pertama dengan hati-hati. Si perempuan itu membentak si petugas sambil uring-uringan”

                Kami saling berhadap-hadapan, aku dan beberapa rekanku. Guys, luka itu hanya lecet dan darah pun yang keluar tidak mengucur deras. Bahkan air matanya lebih deras dibanding tetesan darahnya. Perempuan itu masih menangis sambil mengangkat roknya keluar dari UKS. Kami masih mendengar tangisanya, selepas perempuan itu keluar dari UKS. Yaaa perempuan itu menangis di ujung kelas. Tangisnya memecah seisi sekolah, beberapa guru datang menghampirinya. Sepele, dia jatuh terpeleset akibat bercandaan dengan temannya. Mereka saling memaafkan tetapi perempuan itu masih saja menangis sambil sesekali melihat luka di kakinya. Speechless!! Yaaah terkadang seseorang itu *Berlebihan, hal sepele yang bisa mudah diselesaikan tetapi malah menjadi besar. Sebenarnya yang bikin kami geleng-geleng kepala, bukan perempuan yang menangis  atau luka cederanya tetapi yang sungguh kami sayangkan adalah perbuatannya yang *membentak petugas UKS. Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk penghuni bumi yang salah satunya manusia. Tetapi apakah dengan sikap seperti itu akan membuat permasalahannya selesai?
                Beberapa kali saya melihat dan menemukan orang-orang sekitar yang sebenarnya mereka sendiri yang memperkeruh masalahnya sendiri. Saya juga tidak memungkiri saya juga pernah mengalami hal seperti itu. Sepele mungkin tetapi kita kadang melebih-lebihkannya? Begitu kah? Misal ketika kita mendapatkan musibah sepatu kita rusak saat perjalanan ke sekolah. Mungkin kita cukup membeli lem atau tetap memakainya dengan hati-hati supaya tidak memperparah bagian yang rusak. Tetapi sepertinya tidak seperti itu, kita akan marah-marah, sedih berlebihan terlebih dahulu kenapa sepatu ini rusak, mencoba mencari pinjaman sepatu atau meminta tolong orang rumah membawakan sepatu ganti. Ribet ya? Guys, ada hal yang kita bisa perbaiki masalah kita sendiri terlebih dahulu. Jangan terlalu berlebihan memikirkan masalah seperti itu, tetapi kita coba untuk tenang dan mencari solusi yang mudah dilakukan, terjangkau dan yang pasti REALISTIS.
                Emosi? Solusi apa memperkeruh suasana? Saya sepertinya setuju dengan yang kedua. Bukankah menyelesaikan masalah itu harus dengan pikiran dingin? Kalau kita nyelsain pakai emosi ya jadinya kayak api dikasih bensin. Wuuuuuuuuuuussss kebakaran yang muncul, alias masalah tambah besar aja tuuh. Memang gak dipungkuri tubuh kita ini memang system yang tersusun dengan ajaib, ketika kita punya masalah pikiran akan bekerja keras. Oksigen dalam tubuh harus mensupply lebih banyak di bagian kepala. Tekanan darah pun menjadi tinggi menyebabkan detak jantung makin kencang. Apalagi kalau ditambah marah-marah sudaahlah itu system tubuh bekerja keras dan membuang energi sia-sia saja. Cobalaah untuk wudhu, sholat dan yang terakhir adalah tidur. Setiap orang punya masalah dalam kehidupannya, tapi manusia juga dibekali untuk menyelesaikan masalahnya dan satu hal yang perlu diingat bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hambanya melebihi kapasitasnya. Jadi ketika punya masalah yuuk berbijaklah pada diri sendiri dan selesaikan dengan cara yang indah.

Jumat, 12 September 2014

Siapkah Menjadi Jurnalis?



“berburu berita , harus tepat waktu, siap menerima tekanan dan gak kenal lelah”
Bayangan-bayangan itu selalu menghantui pikiran bagi jurnalis pemula yang baru memulai karir. Bagaimana tidak? Sebelum action harus punya perencanaan yang matang menentukan tema, siapa narasumbernya, siapa reporternya, fotografernya dan menentukan angel tulisan. Setelah itu ketika terjun lapangan harus berburu berita dan berkutat mengejar narasumber, apalagi kalau dapat narasumber yang cukup sibuk kita harus bersabar menanti narasumber punya waktu senggang. Terkadang narasumber membatalkan janji wawancara secara mendadak karena beliau punya schedule padat. Ngenes banget sih kalau kayak gitu tapi jadi jurnalis harus punya banyak ide, sebelum jatuh tempo harus cari narasumber  lainnya. Jangan suka ngaret alias gak tepat waktu, terkadang narasumber suka dengan wartawan/pemburu berita yang dateng tepat waktu, syukur-syukur kalau datangnya lebih awal dari perjanjian. Dapet nilai plus deh dari narasumber.
Selain itu kalau meliput berita dan semua itu adalah para pemburu berita kita harus punya liputan yang beda. Semua berita itu terbit besok juga, kalau isinya sama dengan lainnya berita yang kita tampilin gak bakal populer. Harus Nentuin Angel tulisan dari liputan yang kita dapet, jadinya pas berita tersebar di media cetak (ex:Koran,majalah) beda dari yang lainnya. Penulis juga harus beperang melawan dirinya sendiri, gak boleh nurutin mood menulis. Apapun yang terjadi harus jadi tulisan dan siap untuk diterbitin apapun yang terjadi. Dengan kayak gini kita dituntut jadi professional terhaap kerjaan dan tanggungjawab juga sama tulisan yang kita tulis. Berita yang kita tulis jangan ditambahin atau dikurangin nanti jadinya bukan fakta tapi malah opini penulis. Inget juga jangan terlalu mendramatisir tulisan kalau memang itu berita, tapi kalau genre tulisannya feature syah aja kalau mau didramatisir.
Dibalik beratnya pekerjaan sebagai jurnalis, tapi kayakna tidak menyurutkan semangat anak muda yang mau belajar dan menekuni bidang jurnalistik. Bahkan dengan jadi jurnalis bakal punya pengalaman dan skill lebih. Kog bisa? Jelas kita bakal jadi anak kritis dan peka terhadap informasi yang kita terima secara menjadi jurnalis harus punya bahan berita yang jelas dan fakta. Belajar jadi seseoarang yang professional dengan profesi, gak peduli mood kita seperti apa tapi kita harus cari berita sampai dapat untuk menampilkan informasi kepada pembaca. Tanggungjawab juga dengan berita yang kita tulis, jadinya gak bisa asal nulis aja. Semua tulisan yang kita tampilin harus bisa dipertanggungjawabkan. Belajar menjadi pribadi yang disiplin, dengan adanya deadline yang mencekik maka kita punya motivasi diri untuk menyelesaikannya tepat waktu kalau tidak bisa  maka siap-siap dapat sanksi. Wawancara dengan narasumber yang beda-beda bikin kita jadi punya banyak kenalan dan teman juga, bahkan kalau beruntung bisa ketemu selebriti, tokoh idola atau orang penting. Sering nulis bikin otak kita jadi bekerja terus dan merangsang berpikir kreatif, jadinya pikiran kita kepakek terus gak mubadzir. Kalau berita itu ada angel tulisannya, teman-teman juga punya angel terhadap tulisan saya memandangnya gimana. Jadi keputusan ada di tangan teman-teman untuk mau atau tidak belajar jadi junalis. Tidak ada salahnya mencoba hal yang baru apalagi banyak manfaatnya. Salam jurnalistikJ

Minggu, 31 Agustus 2014

Lari serentak untuk Indonesia #iuRUN Jogja



“Kumpul di GSP  Minggu 31 Agustus Jam 6 pagi pakek dresscode atasan merah atau putih”
Orang yang kebiasaan bermalas-malasan di weekend dan tepatnya hari Minggu bakalan berusaha keras buat bangun lebih awal. Demi apa? Demi lari serentak mengikuti #iuRUN.
IuRUN? Apa itu? Iuran uang, baju atau apaan? Duuuh bagi orang awam juga kurang paham karena itu kalau dibaca juga iuran atau RUN bahasa inggris yang artinya *Lari. Kata iuRUN sendiri itu aku temukan pas lagi nge-twit ceritanya. Salah satu timeline @penyalajogja itu berisi *ayo daftar #iuRUN lari serempak se-indonesia. Liat tweet kayak gitu bikin kepo maksimal deh, akhirnya meluncur deh ke twitter pemilik akun @penyalajogja. Sebuah gerakan lari serempak yang diadakan indonesia mengajar dengan indorunners yang dilakukan se-indonesia bahkan luar negri dan kita cukup ikut berpartisipasi lari. Jadi #iuRUN itu sebenarnya I YOU RUN, alias aku kamu berlari. Pesertanya pun bebas dari siapa saja, kalangan manapun yang penting mau hadir dan berpartisipasi ikut lari.
Lalu ngapain kita lari-lari? Tujuannya apaan? Apa bedanya sama lari biasanya? #iuRUN dibaca I-You-Run. Ini kerja bareng tmn2 @IndoRunners. #iuRUN adalah ajakan utk mendukung sosialisasi #IuranPublik lewat berlari. Dengan adanya iuRUN kita berlari bersama-sama dengan gembira.  Lewat #IuranPublik, masyarakat luas diajak untuk ikut memiliki Indonesia Mengajar dengan ikut memberikan iuran rutin per bulan. Semakin banyak pihak yang memiliki Indonesia Mengajar akan mendorong gerakan ini untuk menjalankan pengelolaan dengan lebih baik lagi; jadi lebih transparan, efektif, akuntabel, dan berdampak. Jadi indonesia mengajar bukan hanya milik para pengajar saja, tetapi semuanya. Kita pun ikut berpartisipasi. Mungkin bagi teman-teman yang belum bisa jadi pengajar muda entah itu dengan beragam alasan. Tapi bukan berarti kita tidak bisa berkontribusi untuk Indonesia.
Manfaatnya apaan donk? Jelaslaaah yang biasanya molor di hari minggu jadi bangun pagi dan olahraga. Badan-badan yang kaku kayak mesin yang gak pernah dihidupin, bakalan jadi lentur *tapi kalo yang udah kaku banget sih, kayakna habis lari bakalan pegel-pegel semua tuuh badan. Sehat didapat teman pun juga didapat, dengan adanya kegiatan iuRUN jadi kenalkan sama anak-anak pengajar muda. Saya pun begitu, bukan hanya anak-anak pengajar muda saja sih, tapi semua teman2 yang hadir di acara tersebut. Salah satu panitia yang merupakan jebolan pengajar muda yang baru pulang dari tugas negara itu banyak berbincang-bincang tentang Indonesia mengajar. Jujurnya sih ane juga pengen ikutan, tapi ya ituu surat izin belum keluar-keluar. Hehehhe. 
Tim #iuRUN Jogja


Aku dan etik narsis niih :p

Beliau ini juga cerita tentang salah satu pengajar muda yang dari Jogja perempuan lagi, punya tekad kuat buat jadi pengajar muda meskipun banyak yang dikorbankan. Salah satunya investasinya yang merupakan model, katanya sih mukanya sempet pecah-pecah selama jadi pengajar muda *waduuuuh. Resiko sih, tapi kalo kita punya niatan baik, insyaallah deh itu semua bakalan baik-baik saja dan terlalui. Beliau juga cerita mengenai alur mekanismenya jadi pengajar muda. Sebenarnya itu perbincangan seru banget gan, tapi karena hape berdering telpon dari temen ane jadinya gak bisa tau perbincangannya secara intens. Ya... temen ane ini ketinggalan grupnya, ya jelaslah saat grupnya pada lari dia malah duduk-duduk di pinggir trotoar. Finally, dia pun harus lari lebih jauh dari track yang ditentukan panitia. Hahahhaha. Rejeki minggu pagi buat dia kalii yaa :p
Selain itu komunitas yang bikin ane tertarik adalah indorunners kalo di Jogja sih namanya playon jogja kalau mau ngepoin twitternya @playonjogja. Komunitas pelari yang isinya ya anak-anak yang hobby lari. Katanya sih temen-temen yang aku temuin pas lari di #iuRUN mereka semua kapok ikutan pertama kali di komunitas itu, karena larinya ngeri gitu katanya. Ane juga kurang paham sih ngerinya gimana. Apakah mereka berwajah sangar? Kayaknya Tidak. Apakah mereka misterius? Sepertinya Gak juga. Nyoba nanya-nanya sih ke temen yang lain, ya memang komunitas pelari minimal mereka lari 5  Km dan levelnya pun ya nambah-nambah bisa jadi 15 Km. Woooww, ya mungkin itu mbak2 pada takut mereka ikut komunitas pas lari 15 Km kalee ya. Hehehhehe. Setiap kamis malam, komunitas ini bakalan lari bareng-bareng. Waaah seru kale ya malem jumat lari-lari gitu, tapi seruuu sih. Selain banyak temen juga bisa buat olahraga dan bikin badan sehat. Soalnya sih kalo jaman sekarang tuh anak muda contohnya temen-temen ane. Kalau diajakin olahraga duuuh susahnya minta ampun, tapi kalo diajakin karoekean, jalan-jalan atau makan. Beeeuuuh gak ada yang absen daaah. Berharap sih bakalan ada event kayak gini lagi. Terutama kegiatan olahraga yang melibatkan anak muda, biar mereka aktif dan sehat. Gak melulu dirumah main game atau ya jalan-jalan gendutin perut :p. Mudah-mudahan buat temen-temen yang belum ikut, kalau ada event ini bisa ikutan yaaaa J

Senin, 30 September 2013

Ekspedisi Capung

Haiiii minggu,,, ujung pekan yang ditandai dengan hari minggu. Beda dengan hari lainnya, jam terbang hari ini sepertinya tidak sesibuk dengan hari senin-jumat yang merupakan "waktu produktif". kuliah dan seabreg dengan kegiatan lainnya. Pagi yang cerah untuk berolahraga dan mengenalkan tubuh ini untuk bergerak, berlari dan melompat. Siang hari jogja mulai terlihat jahatnya, yaitu menyinari jogja dan sekitarnya dengan panas terik. Tapi bukan berarti menghalangi langkah ke luar rumah. Yaaayyy,,,,, sekarang aku harus menemani my sohib yang sedan riweh nyariin capung di sepanjang sungai untuk menyelesaikan skripsinya. Pelajarannya bahwa ternyata capung itu beda-beda warnanya dan jenisnya meskipun semuanya terlihat sama.