Sabtu, 20 September 2014

Arah mana yang aku tuju?




Bukankah aku sudah berlayar sejauh ini,,,,
Energiku banyak aku habiskan untuk mendayung sebuah perahu kecil ini
Badai yang menerpa maupun guncangan ombak sudah kulalui
Tetapi..... pulau yang aku temukan, tidak sesuai dengan yang aku inginkan.
Aku kembali mendayung,,,,,
Mendayung penuh harap menemukan pulau yang aku cari
Pulau yang penuh dunia yang aku impikan
Pulau dimana aku bisa melakukan apa yang aku tulis
Pulau dimana yang sesuai imajinasiku
Aku kehilangan ARAH
Dimanakah petunjuk arahku?
Aku berada di tengah lautan, haruskah aku kembali
Haruskan aku mengisi perahu ini dengan air?
Haruskah aku menenggelamkan semua itu bersama perahuku?
Atau ini hanyalah bagian hal yang harus kulalui?
Hal yang lebih berat dibandingkan badai besar maupun goncangan ombak
Akankah aku mampu melihat matahari terbit dan terbenam di daratan?
Akankah aku mampu melabuhkan perahu kecilku ini di daratan?
Akankah aku menemukan pulau yang aku harapkan?

Aku tidak mau mendahului rencana dan jalan tuhan untuk-Ku, Manusia hanya berencana dan Tuhanlah yang mewujudkannya  tetapi izinkanlah aku berusaha menggapai dan mewujudkan mimpiku  .

Rabu, 17 September 2014

Belajar bersyukur yuuk



 
            UNPREDICTABLE, siapa yang bisa menduga apa yang terjadi hari ini? Tidak ada, mungkin detik ini kita tertawa lepas bahagia tetapi 1 jam lagi? 2 jam lagi? Pa kita masih bisa tertawa lepas atau malahan menangis? Hidup itu sebuah perjalanan dan proses, setiap tahapnya bukankah harus disyukuri? Sebuah tulisan dari kisah nyata seorang Wahyu Setiawan, salah satu adek asuh @senyumkita. Yaaah aku memang belum bertemu langsung dengan orangnya, karena aku hanya administrator sekaligus editor. Tulisan wahyu tidak mungkin saya masukkan dalam recycle bin. Aku berharap teman-teman bisa membaca tulisan Wahyu dan mengambil  setiap pelajaran disetiap uraian kisahnya dalam tulisan ini.

***

Wahyu Setiawan
 Sang Atlet yang Tak Kenal Menyerah
 
“ Aku melangkah untuk mencapai apa yang kuinginkan tetapi aku harus berlari lebih kencang ntuk mendapatkannya. Meski kerikil dan jalanan terjal akan menghalangi setiap langkah kakiku. Tapi aku takkan menyerah!!”

            Aku tidak suka orang melihatku sebelah mata. Aku sama seperti kalian tetapi yang membedakanku dengan kalian adalah kedua mataku. Allah telah mengambil fungsi kedua mataku beberapa tahun yang lalu. Sebuah kecelakaan menimpaku saat aku berumur 4 tahun yang menyebabkan mata kiriku kehilangan fungsinya. Aku masih sempat melihat dengan mataku yang sebelah kanan, tetapi Allah punya kehendak lain. Sebuah bola kasti tepat mengenai mata kananku yang menyebabkan penglihatanku kabur. Semenjak itu kedua mataku tidak seperti dulu lagi.
            Apakah dengan kondisiku seperti ini menyebabkan aku patah semangat ? Jawabannya TIDAK. Meskipun aku kehilangan kedua mataku, aku sama sekali tidak akan kehilangan semangatku belajar dan sekolah. Setelah kedua mataku kehilangan fungsinya aku pindah ke sekolah luar biasa (SLB) meskipun keluargaku tidak menyetujui keputusanku. Aku harus tetap terus belajar dan bersekolah apapun yang terjadi. Aku tidak menghiraukan dengan anggapan orang-orang bahwa SLB adalah sekolah yang isinya orang gila. Aku belajar dari awal menyesuaikan diri, belajar menulis Braille dan belajar membaca.
            Kondisiku yang tidak seperti dulu sama sekali tidak menghentikan aktivitasku. Waktu pagiku, aku gunakan untuk sekolah dan siang harinya aku gunakan untuk membantu nenekku untuk mencari pasir. Nenekku adalah seorang pencari pasir di sungai dekat rumah. Aku harus membantunya, demi mencari uang saku. Aku membantu nenekku sekuat tenagaku. Terkadang aku membawa pasir dari sungai dengan keranjang kecil dan karung beras. Sedangkan saat sore menjelang, aku berangkat mengaji, dan malamnya aku gunakan untuk belajar.
            Aku suka berhitung. Matematika adalah pelajaran yang aku sukai diantara pelajaran yang lainnya. Matematika membuatku tenggelam asyik dengan dunia berhitung. Posisi rangking 5 besar selalu aku dapatkan selama bersekolah di bangku sekolah dasar. Aku sangat bersemangat belajar, buktinya dalam waktu seminggu aku sudah bisa menulis dan membaca huruf braille, meskipun membacanya belum begitu lancar. Tapi aku percaya asalkan mau berusaha dan bersungguh – sungguh pasti aku bisa.
            Sebuah kecelakaan menimpaku, Aku  terjatuh ke dalam jurang dengan kedalaman kurang lebih 10 meter. Pipi sebelah atasku dan keningku berlubang juga dadaku mengalami cedera. Sempat aku merasa, bahwa aku sudah tak ada di dunia. Aku pingsan cukup lama dan dilarikan ke rumah sakit kecamatan, tetapi rumah sakit tidak mampu mengatasi lukaku. Akhirnya aku disarankan untuk dibawa ke rumah sakit di kota. Baru disitulah lukaku bisa ditangani dan dioperasi. Selama 2 minggu aku harus dirawat di rumah sakit dan meninggalkan rutinitasku sekolah.
            Setelah dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang dari rumah sakit. Aku sangat senang bisa kembali bersekolah lagi. Aku mendapatkan tawaran mengikuti lomba catur dan cipta puisi oleh guruku. Aku belajar dan menekuni hal tersebut. Syukur alhamdulilah ketekunanku belajar membuahkan hasil. Aku mendapat juara 1 catur tingkat kabupaten dan juara 3 baca dan cipta puisi. Meskipun aku kalah dalam perlombaan catur tingkat provinsi, tapi aku tak kenal menyerah aku tetap berlatih dan belajar. Turnamen catur berikutnya di tingkat provinsi aku menyabet juara 1 catur tingkat provinsi dan bisa melanjutkan ke perlombaan catur tingkat nasional.
            Aku mengahabiskan waktu sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di SLB. Setelah kenaikan kelas di bangku SMP aku memutuskan pindah sekolah ke Solo. Aku tinggal di asrama dan tidak tinggal bersam nenek ku seperti aku SD dan SMP. Setelah 2 bulan aku sekolah di Solo aku ditawari mengikuti perlombaan lari tingkat nasional. Latihan demi latihan aku jalani dengan semangat. Tapi kata pelatih lariku aku tidak cocok menjadi pelari, karena katanya lariku seperti bebek. Tapi itu justru yang menjadi cambuk bagiku untuk berlatih lari lebih keras. Aku akan membuktikan bahwa aku pasti bisa. Allah tidak diam melihat usaha hambanya, aku mendapatkan juara 1 lari tingkat nasional.
   Tuhan kembali mengujiku. Aku membutuhkan biaya untuk masuk SMA tetapi tabunganku sudah habis, dipakai oleh keluargaku. Hanya satu barang yang aku punya saat itu, handphone. Aku berniat untuk menjual HPku untuk membayar biaya sekolah. Tetapi temanku melarangnya. Dia menyarankanku untuk mencari beasiswa dulu. Tuhan memang tak pernah diam. Akhirnya ada seseorang yang membantuku. Akhirnya aku sekarang bisa melanjutkan sekolah di salah satu SMA Negeri di Solo. Tuhan tidak pernah menguji manusia di luar kemampuan hambanya. Karena setiap ujian yang di hadapi manusia terselip hikmah di baliknya. Dibalik putihnya warna yang ada di skitar ku, meskipun aku tidak bisa lagi melihat indahnya lautan, tingginya gunung. Tapi dari itu aku belajar memahami hidup, belajar, untuk bersyukur.
            Hanya satu pintaku tuk memandang langit biru dalam dekap Ayah dan ibu, Ibu sudah bahagia di surga dan meninggalkanku saat aku berusia 5 tahun. Aku tak tahu ayahku dimana, Ibuku bilang ayah sudah meninggal tetapi kenyataannya Ayah masih hidup dan tidak mau bertemu denganku. Aku tidak tahu salahku apa dengan ayah, tapi aku rindu dengan ayah. Bagaimana sosok ayahku seperti apakah dia yang sebenarnya, tetapi itu hanya keinginan kecil di lubuk hatiku yang paling dalam. Meskipun begitu aku bahagia dengan keluarga kecilku. Sepeninggalnya ibu, Aku tinggal dengan ayah tiriku dan adik tiriku. Ayah tiriku menikahi kakak ibuku yang sering aku kenal Budhe. Aku senang kini memiliki 2 adik tiri, aku tidak peduli saudara kandung atau tiri karena semua adalah keluarga. Kondisi ekonomi keluargaku memanglah kurang sehingga aku harus berusaha keras mencari uang dengan menjadi atlet.  Meskipun begitu aku akan berusaha keras menggapai impianku, aku tidak mau keterbatasan menghalangiku mencapinya.
           

Selasa, 16 September 2014

Berdamai dengan masalah



“Seorang perempuan menangis tersedu-sedu sambil mengangkat roknya berwarna biru tua. Sesekali dia melihat sesuatu di kakinya. Perempuan tersebut datang ke UKS sambil terus menangis minta diobati. Petugas UKS segera mungkin memberikan pertolongan pertama dengan hati-hati. Si perempuan itu membentak si petugas sambil uring-uringan”

                Kami saling berhadap-hadapan, aku dan beberapa rekanku. Guys, luka itu hanya lecet dan darah pun yang keluar tidak mengucur deras. Bahkan air matanya lebih deras dibanding tetesan darahnya. Perempuan itu masih menangis sambil mengangkat roknya keluar dari UKS. Kami masih mendengar tangisanya, selepas perempuan itu keluar dari UKS. Yaaa perempuan itu menangis di ujung kelas. Tangisnya memecah seisi sekolah, beberapa guru datang menghampirinya. Sepele, dia jatuh terpeleset akibat bercandaan dengan temannya. Mereka saling memaafkan tetapi perempuan itu masih saja menangis sambil sesekali melihat luka di kakinya. Speechless!! Yaaah terkadang seseorang itu *Berlebihan, hal sepele yang bisa mudah diselesaikan tetapi malah menjadi besar. Sebenarnya yang bikin kami geleng-geleng kepala, bukan perempuan yang menangis  atau luka cederanya tetapi yang sungguh kami sayangkan adalah perbuatannya yang *membentak petugas UKS. Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk penghuni bumi yang salah satunya manusia. Tetapi apakah dengan sikap seperti itu akan membuat permasalahannya selesai?
                Beberapa kali saya melihat dan menemukan orang-orang sekitar yang sebenarnya mereka sendiri yang memperkeruh masalahnya sendiri. Saya juga tidak memungkiri saya juga pernah mengalami hal seperti itu. Sepele mungkin tetapi kita kadang melebih-lebihkannya? Begitu kah? Misal ketika kita mendapatkan musibah sepatu kita rusak saat perjalanan ke sekolah. Mungkin kita cukup membeli lem atau tetap memakainya dengan hati-hati supaya tidak memperparah bagian yang rusak. Tetapi sepertinya tidak seperti itu, kita akan marah-marah, sedih berlebihan terlebih dahulu kenapa sepatu ini rusak, mencoba mencari pinjaman sepatu atau meminta tolong orang rumah membawakan sepatu ganti. Ribet ya? Guys, ada hal yang kita bisa perbaiki masalah kita sendiri terlebih dahulu. Jangan terlalu berlebihan memikirkan masalah seperti itu, tetapi kita coba untuk tenang dan mencari solusi yang mudah dilakukan, terjangkau dan yang pasti REALISTIS.
                Emosi? Solusi apa memperkeruh suasana? Saya sepertinya setuju dengan yang kedua. Bukankah menyelesaikan masalah itu harus dengan pikiran dingin? Kalau kita nyelsain pakai emosi ya jadinya kayak api dikasih bensin. Wuuuuuuuuuuussss kebakaran yang muncul, alias masalah tambah besar aja tuuh. Memang gak dipungkuri tubuh kita ini memang system yang tersusun dengan ajaib, ketika kita punya masalah pikiran akan bekerja keras. Oksigen dalam tubuh harus mensupply lebih banyak di bagian kepala. Tekanan darah pun menjadi tinggi menyebabkan detak jantung makin kencang. Apalagi kalau ditambah marah-marah sudaahlah itu system tubuh bekerja keras dan membuang energi sia-sia saja. Cobalaah untuk wudhu, sholat dan yang terakhir adalah tidur. Setiap orang punya masalah dalam kehidupannya, tapi manusia juga dibekali untuk menyelesaikan masalahnya dan satu hal yang perlu diingat bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hambanya melebihi kapasitasnya. Jadi ketika punya masalah yuuk berbijaklah pada diri sendiri dan selesaikan dengan cara yang indah.

Jumat, 12 September 2014

Siapkah Menjadi Jurnalis?



“berburu berita , harus tepat waktu, siap menerima tekanan dan gak kenal lelah”
Bayangan-bayangan itu selalu menghantui pikiran bagi jurnalis pemula yang baru memulai karir. Bagaimana tidak? Sebelum action harus punya perencanaan yang matang menentukan tema, siapa narasumbernya, siapa reporternya, fotografernya dan menentukan angel tulisan. Setelah itu ketika terjun lapangan harus berburu berita dan berkutat mengejar narasumber, apalagi kalau dapat narasumber yang cukup sibuk kita harus bersabar menanti narasumber punya waktu senggang. Terkadang narasumber membatalkan janji wawancara secara mendadak karena beliau punya schedule padat. Ngenes banget sih kalau kayak gitu tapi jadi jurnalis harus punya banyak ide, sebelum jatuh tempo harus cari narasumber  lainnya. Jangan suka ngaret alias gak tepat waktu, terkadang narasumber suka dengan wartawan/pemburu berita yang dateng tepat waktu, syukur-syukur kalau datangnya lebih awal dari perjanjian. Dapet nilai plus deh dari narasumber.
Selain itu kalau meliput berita dan semua itu adalah para pemburu berita kita harus punya liputan yang beda. Semua berita itu terbit besok juga, kalau isinya sama dengan lainnya berita yang kita tampilin gak bakal populer. Harus Nentuin Angel tulisan dari liputan yang kita dapet, jadinya pas berita tersebar di media cetak (ex:Koran,majalah) beda dari yang lainnya. Penulis juga harus beperang melawan dirinya sendiri, gak boleh nurutin mood menulis. Apapun yang terjadi harus jadi tulisan dan siap untuk diterbitin apapun yang terjadi. Dengan kayak gini kita dituntut jadi professional terhaap kerjaan dan tanggungjawab juga sama tulisan yang kita tulis. Berita yang kita tulis jangan ditambahin atau dikurangin nanti jadinya bukan fakta tapi malah opini penulis. Inget juga jangan terlalu mendramatisir tulisan kalau memang itu berita, tapi kalau genre tulisannya feature syah aja kalau mau didramatisir.
Dibalik beratnya pekerjaan sebagai jurnalis, tapi kayakna tidak menyurutkan semangat anak muda yang mau belajar dan menekuni bidang jurnalistik. Bahkan dengan jadi jurnalis bakal punya pengalaman dan skill lebih. Kog bisa? Jelas kita bakal jadi anak kritis dan peka terhadap informasi yang kita terima secara menjadi jurnalis harus punya bahan berita yang jelas dan fakta. Belajar jadi seseoarang yang professional dengan profesi, gak peduli mood kita seperti apa tapi kita harus cari berita sampai dapat untuk menampilkan informasi kepada pembaca. Tanggungjawab juga dengan berita yang kita tulis, jadinya gak bisa asal nulis aja. Semua tulisan yang kita tampilin harus bisa dipertanggungjawabkan. Belajar menjadi pribadi yang disiplin, dengan adanya deadline yang mencekik maka kita punya motivasi diri untuk menyelesaikannya tepat waktu kalau tidak bisa  maka siap-siap dapat sanksi. Wawancara dengan narasumber yang beda-beda bikin kita jadi punya banyak kenalan dan teman juga, bahkan kalau beruntung bisa ketemu selebriti, tokoh idola atau orang penting. Sering nulis bikin otak kita jadi bekerja terus dan merangsang berpikir kreatif, jadinya pikiran kita kepakek terus gak mubadzir. Kalau berita itu ada angel tulisannya, teman-teman juga punya angel terhadap tulisan saya memandangnya gimana. Jadi keputusan ada di tangan teman-teman untuk mau atau tidak belajar jadi junalis. Tidak ada salahnya mencoba hal yang baru apalagi banyak manfaatnya. Salam jurnalistikJ